BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Autisme
adalah suatu gangguan
interaksi sosial, komunikasi,
dan perilaku yang
terbatas dan berulang yang muncul sebelum anak berusia 3
tahun (American Psychotic Association, 2000). Pengertian ini juga
dikuatkan oleh Baron-Cohen
(1996) yang menyatakan
bahwa autisme merupakan kondisi yang
mengenai seseorang sejak
lahir ataupun saat
masa balita, yang
membuat dirinya tidak dapat
membentuk hubungan sosial
atau komunikasi yang
normal, sehingga anak
tersebut terisolasi dari manusia
lain dan masuk
dalam dunia repetitif,
aktivitas dan minat
yang obsesif. (Baron-Cohen,
1996). Spektrum Autisme berkaitan dengan gambaran karakteristik yang spesifik
yang disebut sebagai Triad of impairments, yang meliputi :
- Ketidakseimbangan dalam interaksi sosial
- Ketidakseimbangan bahasa & komunikasi sosial
- Ketidakseimbangan fleksibilitas pikiran & imajinasi
- Ketidakseimbangan proses sensori & kemampuan motorik
1.2 Rumusan
Masalah
- Bagaimana penanganan anak Autis ?
- Bagaimana model layanan Anak autis ?
- Bagaimana pembinaan anak Autis ?
- Bagaimana Karakteristik anak Autis ?
1.3 Tujuan
- Pembaca mengetahui bagaimana penanganan anak Autis
- Pembaca mengetahui model layanan anak Autis
- Pembaca mengetahui pembinaan anak Autis
- Pembaca dapat mengetahui karakteristik anak Autis
1.4 Manfaat
Mengetahui bagaimana penanganan anak autis, model
layanan anak autis dalam menempuh pendidikan, pembinaan bagi anak autis, dan
mengetahui karakteristik anak Autis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penanganan Anak Autis
Penanganan diawali dengan deteksi dini
pada anak-anak yang mempunyai karakteristik autisme. Deteksi dini
dapat dilakukan oleh
orangtua, dokter anak/keluarga
ataupun guru. Jika
seorang anak memperlihatkan beberapa
karakteristik autisme, maka
harus segera dilakukan
pengkajian. Pengkajian ini harus
selengkap mungkin untuk
memberikan gambaran yang
jelas mengenai tingkat keparahan
serta keunggulan anak
( child deficits and
strengths). Idealnya pengkajian dilakukan dengan
seksama dengan mengikutsertakan informasi
dan kerjasama dari
berbagai pihak, seperti, orangtua,
guru, pengasuh, dan
keluarga lainnya (Baron-Cohen,
1996). Hasil pengkajian dapat
dapat menjadi dasar
dalam penegakan diagnosis
dan rencana penanganan anak dengan
auitisme, termasuk jenis
terapi dan model
layanan pendidikannya. Adapun
alur penanganan awal nya adalah :
- Asesmen
- Pembuatan profil
- Langkah-langkah bantuan untuk menentukan tujuan (Goal setting) dan membuat rekomendasi
- Pembuatan Rencana Pembelajaran Individual (PPI)
2.2 Model Layanan Anak Autis
a. Program Intervensi Dini
Ada
3 pendekatan intervensi dini bagi anak autis
1).
Dicrete Trial Training
dari Lovaas. Pendekatan
ini mendasarkan pada Aplied
Behavior Analysis (ABA) yang menekankan pada prinsip antisiden, perilaku
dan konsekuensi. Langkah intervensi ditempuh melalui 4 tahap:
1. Stimulasi
dari guru agar anak member respon
2. Respon
anak
3. Konsekuensi
4. Berhenti
sejenak, lalu dilanjutkan dengan stimulsi lain.
2). Intervensi LEAP (Learning Experience
and Alternative Program for Preschoolers and Parents). Pendekatan ini
menekankan fasilitasi pada
anak untuk mengatasi
kesulitan berinteraksi dengan
dunia selain dirinya melalui teknik reinforcement dan control stimulus.
3). Floor Time.
Pendekatan ini menekankan
penggabungan peran kognitif
melalui emosi dan interaksi
menjadi dasar perkembangan
anak untuk menapaki
perkembangan selanjutnya.
Proses pembelajaran dilakukan
dengan cara penenanangan
emosi untuk bisa
memproses informasi dari lingkungan,
berkomunikasi, memunculkan gagaan,
dan mengaitkan gagasan satu dengan gagasan lain.
4).
TEACCH (Treatment and
Education for Autistic
Children and Related
Communication Handicaps).
Pendekatan ini menekankan
pentingnya layanan yang
berkesinambungan individu,
keluarga, dan lembaga
layanan penyandang autis.
Layanan meliputi diagnose, terapi, konsultasi
dengan ahli, dan
kerjasama dengan masyarakat
dalam rangka meningkatkan
kemandirian anak.
b. Program Terapi Penunjang
Program ini meliputi kegiatan layanan
penunjang antara lain berupa:
1).
Terapi Wicara
2).
Terapi Okupasi
3).
Terapi Bermain
4).
Terapi Obat obatan dan Terapi Diet
5).
Terapi Sensori Integrasi dalam rangka penyelarasan sensorik
6). Auditory Integration Therapy untuk melatih
kepekaan respon terhadap orang lain.
7).
Terapi Musik
8).
Terapi Air
2.3
Pembinaan Bagi Anak Autis
Salah
satu karakteristik dalam
autisme adalah adanya
perilaku yang buruk
atau tidak wajar (disruptive behavior),
seperti perilaku stimulasi
diri, tidak suka
pada perubahan, temper
tantrum (marah dengan sangat berlebihan),bahkan perilaku menyerang dan
menyakiti dirinya sendiri. Perilaku seperti
akan membahayakan dirinya
sendiri, orang lain
di sekitarnya dan
menjadi perilaku yang mengganggu dan
tampak aneh bagi
orang-orang yang melihatnya.
Langkah-langkah pelaksanaan
pembinaan perilaku dilakukan
dengan prinsip-prinsip intervensi
melalui Program Pembelajaran
Individual (PPI)
2.4
Karaktristik Autis
Karakteristik pada
gangguan autisme meliputi
interaksi sosial, komunikasi, pola
bermain, gangguan sensoris,
perkembangan lambat atau
tidak normal, dan penampakan gejala. Beberapa gambaran
karakteristik dalam autisme:
a. Interaksi
sosial: Tidak tertarik untuk bermain bersama teman, lebih suka menyendiri,
tidak ada atau sedikit kontak mata, senang menarik tangan orang lain untuk
melakukan apa yang diinginkannya.
b. Komunikasi:
Perkembangan bahasa lambat, anak tampak seperti tuli, kadang kata-kata yang
digunakan tidak sesuai artinya, mengoceh tanpa arti berulang-ulang, sebagian
dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit bicara sampai usia
dewasa.
5
c. Pola
Bermain: Tidak bermain seperti anak-anak, senang akan benda-benda yang
berputar, tidak bermain sesuai fungsi mainan, tidak kreatif, tidak imajinatif,
dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu.
d. Gangguan
Sensoris: sangat sensistif terhadap sentuhan, bila mendengar suara keras
langsung menutup telinga, senang mencium-cium, tidak sensitif terhadap rasa
sakit dan rasa takut.
e. Perkembangan
Lambat atau tidak normal: Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal,
khususnya dalam ketrampilan sosial, komunikasi dan kognisi , serta dapat pula
mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan
sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang.
f. Penampakan
gejala: Gejala dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya
sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada. Pada beberapa anak sekitar umur 5 – 6
tahun gejala tampak agak berkurang.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Autisme adalah suatu
gangguan interaksi sosial,
komunikasi, dan perilaku
yang terbatas dan
berulang yang muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Penanganan diawali
dengan deteksi dini pada anak-anak yang mempunyai karakteristik autisme.
Deteksi dini dapat
dilakukan oleh orangtua,
dokter anak/keluarga ataupun
guru. Jika seorang anak
memperlihatkan beberapa karakteristik
autisme, maka harus
segera dilakukan pengkajian. Salah satu
karakteristik dalam autisme
adalah adanya perilaku
yang buruk atau
tidak wajar (disruptive behavior),
seperti perilaku stimulasi
diri, tidak suka
pada perubahan, temper
tantrum (marah dengan sangat berlebihan),bahkan perilaku menyerang dan
menyakiti dirinya sendiri. Perilaku seperti
akan membahayakan dirinya
sendiri, orang lain
di sekitarnya dan
menjadi perilaku yang mengganggu dan
tampak aneh bagi
orang-orang yang melihatnya.
DAFTAR
PUSTAKA
IGAK Wardani, 2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Jakarta: Universitas Terbuka.
Munawir Yusuf, dkk. 2013, Pendidikan Kompensatoris ABK, Jakarta:
Konsorsium Serifikasi Guru.
Munawir Yusuf, dkk. 2005,
Pengembangan Model
Modifikasi Perilaku Melalui ‘Continuous
Reinforcement’ Dan ‘Partial
Reinforcement’ Untuk Mengatasi
Kebiasaan ‘Buruk’ Anak Dalam Belajar, Laporan Penelitian, DP3M
Ditjen Dikti, Jakarta.