Monday, 26 October 2015



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Autisme adalah  suatu  gangguan  interaksi  sosial,  komunikasi,  dan  perilaku  yang  terbatas  dan  berulang yang muncul sebelum anak berusia 3 tahun (American Psychotic Association, 2000). Pengertian ini  juga  dikuatkan  oleh   Baron-Cohen  (1996)  yang  menyatakan  bahwa  autisme  merupakan kondisi  yang  mengenai  seseorang  sejak  lahir  ataupun  saat  masa  balita,  yang  membuat  dirinya tidak  dapat  membentuk  hubungan  sosial  atau  komunikasi  yang  normal,  sehingga  anak  tersebut terisolasi  dari  manusia  lain  dan  masuk  dalam  dunia  repetitif,  aktivitas  dan  minat  yang  obsesif. (Baron-Cohen, 1996). Spektrum Autisme berkaitan dengan gambaran karakteristik yang spesifik yang disebut sebagai Triad of impairments, yang meliputi :
  1.  Ketidakseimbangan dalam interaksi sosial
  2. Ketidakseimbangan bahasa & komunikasi sosial
  3. Ketidakseimbangan fleksibilitas pikiran & imajinasi
  4. Ketidakseimbangan proses sensori & kemampuan motorik

1.2    Rumusan Masalah
  1. Bagaimana penanganan anak Autis ?
  2. Bagaimana model layanan Anak autis ?
  3. Bagaimana pembinaan anak Autis ?
  4. Bagaimana Karakteristik anak Autis ?

1.3    Tujuan
  1.  Pembaca mengetahui bagaimana penanganan anak Autis
  2. Pembaca mengetahui model layanan anak Autis
  3.  Pembaca mengetahui pembinaan anak Autis
  4.  Pembaca dapat mengetahui karakteristik anak Autis

1.4 Manfaat
Mengetahui bagaimana penanganan anak autis, model layanan anak autis dalam menempuh pendidikan, pembinaan bagi anak autis, dan mengetahui karakteristik anak Autis.
 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penanganan Anak Autis
Penanganan diawali dengan deteksi dini pada anak-anak yang mempunyai karakteristik autisme. Deteksi   dini  dapat  dilakukan  oleh  orangtua,  dokter  anak/keluarga  ataupun  guru.  Jika  seorang anak  memperlihatkan  beberapa  karakteristik  autisme,  maka  harus  segera  dilakukan  pengkajian. Pengkajian  ini  harus  selengkap  mungkin  untuk  memberikan  gambaran  yang   jelas  mengenai tingkat  keparahan  serta  keunggulan  anak   ( child  deficits  and  strengths).  Idealnya   pengkajian dilakukan  dengan  seksama  dengan  mengikutsertakan  informasi  dan  kerjasama  dari  berbagai pihak,  seperti,  orangtua,  guru,  pengasuh,  dan  keluarga  lainnya  (Baron-Cohen,  1996).  Hasil pengkajian  dapat  dapat  menjadi  dasar  dalam  penegakan  diagnosis  dan  rencana  penanganan anak  dengan  auitisme,  termasuk  jenis  terapi  dan  model  layanan  pendidikannya.  Adapun  alur penanganan awal nya adalah :
  1. Asesmen
  2. Pembuatan profil
  3. Langkah-langkah bantuan untuk menentukan tujuan (Goal setting) dan membuat rekomendasi
  4. Pembuatan Rencana Pembelajaran Individual (PPI)

2.2 Model Layanan Anak Autis
a.  Program Intervensi Dini
Ada 3 pendekatan intervensi dini bagi anak autis
1).  Dicrete  Trial  Training  dari  Lovaas.  Pendekatan  ini  mendasarkan pada  Aplied  Behavior Analysis (ABA) yang menekankan pada prinsip antisiden, perilaku dan konsekuensi. Langkah intervensi ditempuh melalui 4 tahap:
1.      Stimulasi dari guru agar anak member respon 
2.      Respon anak                                                     
3.      Konsekuensi
4.      Berhenti sejenak, lalu dilanjutkan dengan stimulsi lain.
2). Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for Preschoolers and Parents). Pendekatan  ini  menekankan  fasilitasi  pada  anak  untuk  mengatasi  kesulitan  berinteraksi dengan dunia selain dirinya melalui teknik reinforcement dan control stimulus.
3). Floor  Time.  Pendekatan  ini  menekankan  penggabungan  peran  kognitif  melalui  emosi  dan interaksi  menjadi  dasar  perkembangan  anak   untuk  menapaki  perkembangan  selanjutnya. Proses  pembelajaran  dilakukan  dengan  cara  penenanangan  emosi  untuk  bisa  memproses informasi  dari  lingkungan,  berkomunikasi,  memunculkan  gagaan,  dan  mengaitkan  gagasan satu dengan gagasan lain.
4).  TEACCH  (Treatment  and  Education  for  Autistic  Children  and  Related  Communication Handicaps).  Pendekatan  ini  menekankan  pentingnya  layanan  yang  berkesinambungan individu,  keluarga,  dan  lembaga  layanan  penyandang  autis.  Layanan  meliputi  diagnose, terapi,  konsultasi  dengan  ahli,  dan  kerjasama  dengan  masyarakat  dalam  rangka meningkatkan kemandirian anak.
b.  Program Terapi Penunjang
Program ini meliputi kegiatan layanan penunjang antara lain berupa:
1). Terapi Wicara
2). Terapi Okupasi
3). Terapi Bermain
4). Terapi Obat obatan dan Terapi Diet
5). Terapi Sensori Integrasi dalam rangka penyelarasan sensorik
6). Auditory Integration Therapy untuk melatih kepekaan respon terhadap orang lain.
7). Terapi Musik
8). Terapi Air
2.3 Pembinaan Bagi Anak Autis
Salah  satu  karakteristik  dalam  autisme  adalah  adanya  perilaku  yang  buruk  atau  tidak  wajar (disruptive  behavior),  seperti  perilaku  stimulasi  diri,  tidak  suka  pada  perubahan,  temper  tantrum (marah dengan sangat berlebihan),bahkan perilaku menyerang dan menyakiti dirinya sendiri. Perilaku seperti  akan  membahayakan  dirinya  sendiri,  orang  lain  di  sekitarnya  dan  menjadi  perilaku  yang mengganggu  dan  tampak  aneh  bagi  orang-orang  yang  melihatnya.  Langkah-langkah  pelaksanaan pembinaan  perilaku  dilakukan  dengan  prinsip-prinsip  intervensi  melalui  Program  Pembelajaran  Individual (PPI)
2.4 Karaktristik Autis
Karakteristik  pada  gangguan  autisme  meliputi  interaksi  sosial, komunikasi,  pola  bermain,  gangguan  sensoris,  perkembangan  lambat  atau  tidak  normal,  dan penampakan gejala. Beberapa gambaran karakteristik dalam autisme:
a.       Interaksi sosial: Tidak tertarik untuk bermain bersama teman, lebih suka menyendiri, tidak ada atau sedikit kontak mata, senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya.
b.      Komunikasi: Perkembangan bahasa lambat, anak tampak seperti tuli, kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya, mengoceh tanpa arti berulang-ulang, sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit bicara sampai usia dewasa. 
                                      5
c.       Pola Bermain: Tidak bermain seperti anak-anak, senang akan benda-benda yang berputar, tidak bermain sesuai fungsi mainan, tidak kreatif, tidak imajinatif, dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu.
d.      Gangguan Sensoris: sangat sensistif terhadap sentuhan, bila mendengar suara keras langsung menutup telinga, senang mencium-cium, tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
e.       Perkembangan Lambat atau tidak normal: Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam ketrampilan sosial, komunikasi dan kognisi , serta dapat pula mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang.
f.       Penampakan gejala: Gejala dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada. Pada beberapa anak sekitar umur 5 – 6 tahun gejala tampak agak berkurang.



BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Autisme adalah  suatu  gangguan  interaksi  sosial,  komunikasi,  dan  perilaku  yang  terbatas  dan  berulang yang muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Penanganan diawali dengan deteksi dini pada anak-anak yang mempunyai karakteristik autisme. Deteksi   dini  dapat  dilakukan  oleh  orangtua,  dokter  anak/keluarga  ataupun  guru.  Jika  seorang anak  memperlihatkan  beberapa  karakteristik  autisme,  maka  harus  segera  dilakukan  pengkajian. Salah  satu  karakteristik  dalam  autisme  adalah  adanya  perilaku  yang  buruk  atau  tidak  wajar (disruptive  behavior),  seperti  perilaku  stimulasi  diri,  tidak  suka  pada  perubahan,  temper  tantrum (marah dengan sangat berlebihan),bahkan perilaku menyerang dan menyakiti dirinya sendiri. Perilaku seperti  akan  membahayakan  dirinya  sendiri,  orang  lain  di  sekitarnya  dan  menjadi  perilaku  yang mengganggu  dan  tampak  aneh  bagi  orang-orang  yang  melihatnya.


DAFTAR PUSTAKA
IGAK Wardani, 2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Jakarta: Universitas Terbuka.
Munawir Yusuf, dkk. 2013, Pendidikan Kompensatoris ABK, Jakarta: Konsorsium Serifikasi Guru.
Munawir Yusuf,  dkk. 2005,  Pengembangan  Model  Modifikasi Perilaku  Melalui ‘Continuous 
Reinforcement’ Dan ‘Partial  Reinforcement’  Untuk  Mengatasi  Kebiasaan  Buruk’  Anak Dalam Belajar, Laporan Penelitian, DP3M Ditjen Dikti, Jakarta.

No comments:

Post a Comment